TANGGAL 28 Januari kemarin genap pemerintahan 100 hari SBY-Budiono. Entah kebetulan atau tidak pada hari yang sama SBY ke Magelang meresmikan PLTU. Sementara rakyat, buruh, nelayan dan elemen mahasiswa tumpah ruah di berbagai titik berdemo menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan ke dua SBY. Dan itu terlihat dari berbagai tulisan seperti poster, spanduk dan corat-coret. Lebih dari itu tindakan sebagian pendemo di beberapa daerah bahkan ada yang membakar, menginjak foto para pemimpin negera serta simbol partai.
Demo ini merupakan terbesar awal tahun 2010. Sebelumnya 9 Desember 2009 memperingati hari anti korupsi demo surupa juga terjadi meski tidak sebanyak dan sebesar akhir Januari kemarin, tapi ke dua gerakan masyarakat ini cukup memberi pesan kepada siapapun, bahwa program 100 hari SBY-Budiono ini jawaban dari klaim keberhasilan yang dikemukan para pembantu SBY, Hatta Rajasa yang menyatakan bahwa program 100 hari pemerintahan berhasil adanya.
Tapi, apa yang dikemukakan demontrasi, bisa jadi mewakli kita, saya, saudara-saudara kita di berbagai pedalaman negeri. Kalau kita cermati 100 hari SBY tak lebih diributkan oleh berbagai perdebatan- kalau tidak bisa dikatakan pertengkaran. Lihat-lah bagaimana pansus angket Century DPR acapkali mempertontonkan tudingan-tudingan antar sesama anggota. Padahal sisi pandang awal mereka sana: Membuka kasus secara terang-benderang.
Bila dicermati, adanya panitia khusus angket DPR ini merupakan kelanjutan merebaknya kasus kriminalisasi ketua KPK, Bibit-Chandra oleh Polri dan Kejaksaan. Kasus ini mengapung kepermukaan belum sampai sebulan SBY-Budiono usai melantik kabinet Indonesia Bersatu jilid dua. Benar atau tidak, persoalan inilah yang sebenarnya yang membentuk bola salju terbentuknya panitia Angket yang sampai hari ini belum merampungkan tugasnya.
Meski begitu, program 100 yang diklaim masyarakat dan mahasiswa gagal, menurut hemat kami tidak semuanya benar. Ada beberapa program pro kepentingan mencatat sukses, seperti :
1. Mobil mewah 1,3miliar yang dibagikan kesejumlah pembantu dan pejabat tinggi.
2. Pemugaran istana negara 22.5 miliar.
3. Depertemen Kelautan membeli sebuah kapal pesiar untuk patroli yang didalamnya terdapat ruang miting dan kamar tidur kelas hotel bintang lima. Harganya hampir 15 miliar, uang sebanyak itu bisa membeli empat kapal khusus berpatroli menjaga perairan laut.
4. Memberikan hanumeri(bonus prestasi) berupa kenaikan gaji kepada menteri berkinerja baik ( dilakukan setelah mendapat kecaman masyarakat).
5. Membeli pesawat ke presidenan 400-600 miliar.
Inilh program SBY-Budiono 100 hari memerintah. Sedang program pro rakyat yang tengah berlangsung diberbagai daerah hingga kini, yaitu penggusuran pedagang K-5 dan pemukinan rakyat, sengketa tanah, Penolakan pasien dengan kartu Jamkesmas, Kartu Gakin dan penyanderaan bayi karena tidak mampu membayar bea rumah sakit. PHK buruh karena UU Menakretrans berpihak kepada pengusaha. Sogok menyogok masuk PNS. Diskriminasi hukum. Dsbnya. Gimana setujukan....kita..???? hee....he...
cizz
kalo penolakan pasien, setauku si nggak... well, emang pemerintahan sby gelombang 2 ini agak mengecewakan, tapi tetep ada kok program2 bagus yang tetap mesti kita dukung, seperti pemberantasan mafia hukum... ^^
cisbi.blogspot.com