Ufh .... kasihan juga tuh anak-anak SMA yang sekarang lagi ikut ujian PAKET C atau UPER karena ga lulus UN, sistem pendidikan terutama dalam penentuan pelulusan tidak berpihak kepada mereka. Coba bayangin gimana ga kecewa ketika satu dari enam mata uji UN mendapat nilai 3,99 sementara lima yang lainnya mendapat angka rata-rata di atas nilai 8.
Ga tau mau dibawa kemana pendidikan Indonesia sekarang ini....., sebenarnya alih-alih meningkatkan mutu pendidikan via UN justru menumbuhkan kembangkan mentalitas marxisme yang secara hukum dan peraturan perundang-undang tidak boleh eksis di Indonesia.
Pemerintah tampaknya menutup mata bahwa sebagian besar civitas academica (termasuk di dalamnya guru-guru berlomba-lomba membuat 'tim sukses yang tidak halal' untuk memberikan kunci jawaban kepada peserta UN).
So .... jangan pernah berharap kita bisa menyamai kualitas pendidikan di negeri-negeri jiran ASEAN .....kalau sistem UN masih seperti ini. Mendingan UN tetap ada -demi untuk mengukur standar nasional- tapi bukan untuk menentukan kelulusan. Hasil UN mendingan dijadikan standar pemberian bantuan kepada lembaga pendidikan (sekolah). Misalnya standar minimal untuk sebuah sekolah agar bisa menerima bantuan BOMM atau BOSS harus 5,00 sepertinya itu lebih mendidik (lebih tepatnya lebih manusiawi).
Efek dari kebijakan pendidikan yang bodoh jangka panjang
Ada efek-fek tertentu yang bisa menjadi kenyataan apabila sistem pendidikan semaca ini tetap diterapkan di Indonesia.
Artikel selengkapnya akan dibahas di sini
Post new comment