Cara Menjadi Anak yang Mandiri dan Mapan di Usia Muda

Seorang manusia dikatakan dewasa ketika sudah berusia kurang lebih 14 tahun (15 tahun kalender hijriah).  Namun jika belum genap berusia 14 tahunan namun sudah menstruasi, mimpi basah, tertarik dengan lawan jenis, muncul bulu kemaluan, dan lain sebagainya maka orang tersebut sudah bisa dikatakan dewasa.  Di Indonesia, anak-anak yang sudah berubah menjadi pada umumnya tetap dianggap sebagai anak-anak karena perawakan ras orang Indonesia yang kecil dan imut-imut.  Berbeda dengan orang bule yang secara umum lebih jelas terlihat dewasanya saat berusia 14 tahun lebih.

Seharusnya orangtua mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan mapan sedini mungkin, sehingga pada usia baligh (dewasa) sudah bisa bekerja mencukupi kebutuhan dirinya sendiri beserta tanggungannya (bila ada).  Budaya di Indonesia yang masih menganggap anak di bawah 17 tahun sebagai anak-anak jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam.  Hal tersebut membuat para orangtua dan pembuat kebijakan lalai dalam mempersiapkan kedewasaan dan kemandirian anak-anak yang sudah memasuki usia baligh.  Walhasil maka ada banyak anak-anak yang melakukan berbagai penyimpangan perilaku, kenakalan dan berbagai tindakan maksiat.

Jika pemerintah dan para orangtua masih menganggap anak usia 14 tahun sampai dengan 16 tahun sebagai anak-anak.  Dan juga masih menganggap anak-anak yang masih sekolah sma dan kuliah sebagai orang yang belum bisa mandiri dan belum dewasa, maka anak-anak perlu melakukan berbagai hal untuk mengubah nasibnya sendiri.  Dengan begitu anak-anak yang sudah berusia baligh (kurang lebih 12 tahun ke atas) bisa menjadi pribadi yang mapan dan mandiri sebagaimana orang dewasa lainnya.

Beberapa Cara Menjadi Anak yang Mapan dan Mandiri Menjadi Orang Dewasa Seutuhnya :

1. Menciptakan Lapangan Pekerjaan Sendiri

Jumlah pengangguran yang sangat tinggi di Indonesia akan menyulitkan anak-anak yang telah masuk umur dewasa untuk bekerja seperti orang dewasa di atas umur 20 tahun pada umumnya.  Perusahaan dan perekrut tenaga kerja lebih menyukai merekrut tenaga kerja yang sudah berumur 20 tahun ke atas.  Itulah sebabnya mengapa anak-anak berusia baligh harus berkumpul dan berserikat untuk memperbaiki nasibnya sendiri dengan menciptakan lapangan kerja sendiri yang memiliki potensi besar.  Dengan demikian anak-anak bisa menciptakan usaha sendiri dan bersaing dengan orang yang sudah sangat dewasa dalam mencari keuntungan yang besar.

2. Belajar Keterampilan Yang Sangat Dibutuhkan

Para anak-anak baligh secara otodidak belajar berbagai keterampilan yang saat ini sangat dibutuhkan oleh industri.  Contohnya seperti akuntansi tingkat ahli, programmer tingkat ahli, jurnalis tingkat ahli, ahli kesehatan tingkat ahli, teknisi tingkat ahli, dan lain sebagainya.  Jika perlu anak-anak berserikat dan menyewa praktisi ahli untuk mengajari mereka menjadi seorang profesional ahli sesuai minat dan bakat yang dimiliki.  Setelah anak-anak menjadi ahli maka bisa menjadi freelance atau menciptakan perusahaan sendiri.

3. Menikah di Usia Muda

Untuk menjadi lebih dewasa maka anak-anak yang sudah mapan secara finansial dan siap belajar mandiri sebaiknya menikah.  Tentu akan lebih baik jika yang laki-laki menikah dengan wanita yang sudah dewasa mapan di atas usia 20 tahun, dan yang perempuan menikah dengan pria mapan yang sudah dewasa berusia di atas 20 tahun.  Dengan begitu maka anak-anak yang sudah baligh akan lebih terpacu untuk belajar menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab.  Berpoligami maupun dipoligami pun sah-sah saja asalkan sesuai dengan ajaran agama Islam yang benar karena tidak melanggar hukum negara maupun hukum agama.  Berbagai tindak kenakalan remaja dan hubungan suami isteri di luar nikah yang dilakukan oleh anak-anak pun akan dapat diminimalisir sekecil mungkin.  Jika memiliki anak di bawah usia tertentu terbukti tidak baik bagi kesehatan, maka kehamilan hendaknya ditunda hingga batas usia yang aman bagi wanita.

4. Rajin Bersosialisasi Dengan Orang Dewasa yang Baik

Jika ingin cepat dewasa, maka anak-anak baru besar (remaja) harus berani bergaul dengan orang dewasa yang baik dan sholeh.  Tentu saja cara bergaul dengan orang yang sudah dewasa apalagi sepuh harus berbeda dengan bergaul dengan teman-teman yang seumuran.  Jika hal tersebut dipraktekkan dengan baik, maka seorang anak baligh akan dapat berperilaku sebagaimana halnya orang dewasa.  Perasaan minder, malu, gugup, tidak enakan, dan lain sebagainya saat berinteraksi dengan orang dewasa pun tidak lagi kaku.  Akan jauh lebih baik lagi apabila berbagai hal yang kekanak-kanakan ditinggalkan atau dikurangi, seperti main mainan anak-anak, nonton film anak-anak, berperilaku seperti anak-anak, dan lain sebagainya.

---

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak yang sudah merasa memasuki usia baligh (dewasa) untuk bisa menjadi pribadi yang mapan dan mandiri tanpa bantuan orang lain.  Jika hal ini populer di kalangan masyarakat, maka tindak kenakalan remaja dan hubungan intim di luar nikah yang dilakukan oleh remaja dapat ditekan semaksimal mungkin.  Penyakit menular hubungan intim pun juga dapat ditekan karena semakin sedikit abg yang melakukan pergaulan bebas.  Jika anak-anak yang baru gede dikelola dan ditangani dengan baik, maka akan menghasilkan kesejahteraan bangsa dan negara yang lebih baik.

Artikel Terkait :

0 Respon Pada "Cara Menjadi Anak yang Mandiri dan Mapan di Usia Muda"

Poskan Komentar